Belajar menyadari bahwa terdapa ‘dunia lain’ selain ‘dunia di dalam rumahnya’, dapat mengasah kemampuan sosial bayi (social skill).
Pada saat pertama kali Nayla (23 tahun) mendengar tangisan Reiza (10 hari), ibu muda yang juga masih berstatus mahasiswa fakultas ekonomi sebuah perguruan tinggi swasta itu merasa bahagia. “Setelah sembilan bulan dalam kandungan, akhirnya aku bisa mendengar suara bayiku,” katanya dalam hati kala itu. Tiga hari kemudian, tiba saatnya Nayla membawa Reiza pulang ke rumah. Dan, seminggu kemudian, ibu maupun mertuanya yang sama-sama tinggal di luar kota pun pamit meninggalkan keluarga baru itu. Tinggalah Nayla, Tommy (25 tahun), suaminya, dan si kecil Reiza. Pada malam harinya, pasangan muda itu mulai disibukkan dengan tangisan Reiza. “Aku tidak tahu kenapa dia menangis. Kadang-kadang, popoknya kering, sudah diberi ASI, dan suhu badannya normal, tapi menangis juga,” kata Nayla kebingungan.
Kebingungan Nayla sebenarnya bukan hal yang aneh. Selain masih muda, ini juga pengalaman pertamanya menjadi seorang ibu, apalagi ia harus merawat si kecil, Reiza sendiri, tanpa bantuan ibu/mertua atau bahkan pengasuh. Tentu saja, dibutuhkan kesabaran, untuk beradaptasi. Apalagi, menghadapi bayi mungil yang belum bisa bicara. Lantas, bagaimana caranya untuk saling berkomunikasi, ya? Nah, menurut Barbara P. Homeier, MD sejak kelahirannya, bayi sebenarnya sudah mulai berkomunikasi. Caranya, melalui tangisan-tangisannya. “Pada awal kelahiran, tangisan bayi seperti ‘bahasa asing’ bagi Anda. Tetapi, seiring waktu, Anda akan pandai menemukan ‘jawaban’ terhadap makna di balik ‘bahasanya’, dan membuat Anda mampu memenuhi kebutuhannya,” katanya dalam kidshealth.org.
Demikian pula Anda, sebagai seorang ibu, sebenarnya sudah mulai berkomunikasi dengan si kecil dengan berbagai cara. “Sesaat setelah lahir, Anda akan ‘memperkenalkan’ bayi cara Anda berkomunikasi dengannya. Misalnya, dengan menyentuh, memeluk, dll. Bayi akan mempelajari bahasa Anda, sebagaimana Anda mempelajari bahasanya,” kata dokter dari Alfred I. DuPont Hospital for Children, Wilmington itu.
Dia tahu siapa ibunya
Menurut dr. H.M. Nana Karnaen, SpA, dokter spesialis anak, Brawijaya Women and Children Hospital, sebenarnya sejak bayi, anak sudah tahu siapa ibunya. Apalagi, jika Anda memberikan kepadanya ASI Eksklusif. Secara naluriah, si kecil dapat ‘membaui’ tubuh ibunya, dan bisa menyadari kehadiran ibunya. Termasuk, jika sang ibu tidak ada. Itulah kenapa, kadang-kadang bayi menangis, meski popoknya dalam keadaan kering dan perutnya dalam keadaan kenyang. Terkadang, ia hanya memastikan bahwa ibunya ada di dekatnya. Pasalnya, meski belum bisa berbicara, ia dapat mendengar suara orang di sekitarnya, termasuk suara ibunya. Nah, jika ia merasa tidak mencium aroma tubuh Anda, dan tidak mendengar suara Anda, itulah yang mungkin membuatnya merasa tidak aman, lalu menangis ‘mencari’ Anda.
Ajak ia ‘bergaul’
Meski belum bisa berbicara, bukan berarti Anda tidak perlu membiasakan diri berkomunikasi dengan buah hati Anda. Pasalnya, bayi, sejak lahir sebenarnya sudah mampu ‘bergaul’ dengan orang-orang terdekatnya, terutama ibunya. Artinya, dengan segala keterbatasannya, si kecil sudah dapat diajak berinteraksi.
Alasannya, menurut dr. Caroline Mulawi, SpA, dokter spesialis anak, RS Omni Medical Center, Pulomas, ikatan emosional Anda dan si kecil sudah terjalin sejak ia masih dalam kandungan. Nah, ikatan emosional inilah yang memungkinkan Anda dan si kecil memiliki ‘akses’ untuk saling berinteraksi, saling mengerti, dan memahami satu sama lain, meski dengan 2 ‘bahasa’ yang berbeda.
Untuk itu sangat penting bagi Anda untuk sesering mungkin mengajak si kecil berinteraksi. Ajak dia bicara di setiap ada kesempatan. Misalnya, saa mengganti popok, saat memandikannya, saat menyusuinya, dll. “Kegiatan seperti itu dapat menimbulkan interaksi sosial ibu-anak, dan interaksi tersebut dapat menimbulkan rasa aman dalam diri anak,” papar dr. Caroline, dalam materi presentasinya yang bertajuk Mother Infant Bonding. Interaksi sosial tersebut, bisa membuat anak enak makan (menyusui), nyenyak tidur, mudah buang air besar, dll. Tentu saja, si kecil juga jadi cenderung tidak rewel/sering menangis.
Mengenal orang-orang terdekatnya
Menurut dr. Nana, saat bayi berusia 5-6 bulan ia sudah lebih pandai mengenali orang-orang terdekatnya. Tidak hanya mengenal ibu dan ayahnya, si kecil pun sudah tahu siapa saja orang-orang yang tinggal bersamanya. Itulah mengapa, jika ada orang lain yang asing baginya tiba-tiba ada di rumah, apalagi langsung menggendongnya, umumnya, ia akan bereaksi dengan cara menangis. Untuk itu, jika ada kerabat yang datang mengunjungi rumah Anda, pastikan untuk tidak meninggalkan si kecil dengannya. Dampingi buah hati Anda, agar rasa amannya tidak terusik.
Belajar mengenal dunia luar
Selain belajar mengenal orang tua, dan oarng-orang terdekatnya, si kecil boleh saja diajak untuk mengenal ‘dunia luar’. Asalkan secara bertahap. “Misalnya, pada usia 2 minggu diajak ke teras rumah. Lalu, saat usianya bertambah diajak jalan-jalan di lingkungan komplek perumahan tempat tinggal, lama-lama (usia 2 bulan ke atas) mulai boleh diajak berpergian ke tempat lain, misalnya ke mal,” kata dr. Nana. Di samping dapat membuatnya belajar bahwa terdapat ‘dunia lain’ selain ‘dunia di dalam rumahnya’, juga dapat mengasah kemampuan sosialnya (social skill). Ini berguna terutama pada masa yang akan dating. *PG
Saat Tepat Membuat Si Kecil ’Gaul’
Sebelum mengajak si kecil berpergian dan berinteraksi dengan ‘dunia luar’, sebaiknya Anda memperhatikan beberapa hal, seperti:
1. Usia bayi. Jangan paksakan keinginan Anda untuk membawanya berpergian, jika secara usia kondisi fisiknya belum memungkinkan.
2. Bayi sehat. Pastikan ketika akan mengajaknya berinteraksi dengan lingkungan luar, ia dalam keadaan sehat.
3. Jangan terlalu lama. Perhatikan waktu yang Anda gunakan untuk membawa si kecil ‘ke luar’ rumah. Jangan sampai terlalu lama. Selain bisa membuat anak bosan dan menjadi rewel, dikhawatirkan bisa membuatnya sakit. Pasalnya, di tempat umum, seperti mal, terdapat berbagai macam orang asing, bisa saja satu atau beberapa di antaranya sedang sakit. Bila terlalu lama, di tempat seperti ini bisa saja secara tidak sengaja membuat bayi tertular.
4. Perhatikan cuaca. Jika, memang sedang hujan, mendung, berangin, panas terik, atau sudah larut malam, sebaiknya jangan paksakan membawa si kecil berpergian.
sumber :
Parents guide, Vol. VI, No. 2, November 2007, Hal. 88 & 90

Tidak ada komentar:
Posting Komentar